Ketika kebebesan berfikir (berkreasi dan berapresiasi) terkekang oleh Lembaga Pendidikan itu sendiri, pembangunan watak seorang siswa tak akan pernah berhasil. Alm. Slamet Iwan Santoso (Tokoh Pendidikan, Pendiri Fakultas Psikologi UI) pernah mengatakan resiko dalam sebuah pendidikan ketika seorang siswa/pelajar mengemban materi pelajaran yang sangat banyak akan memiliki efek yang negatif terhadap pengembangan watak seorang siswa/pelajar. Apa yang diharapkan oleh setiap Lembaga Pendidikan, yaitu menciptakan manusia yang pantas dan layak dimata masyarakat sebagai tenaga siap pakai (pekerja) serta memiliki nilai jual yang diakui (terakreditas) oleh pasar kerja. Akan tetapi dengan beban materi belajar yang setiap hari dalam bentuk formal akan menggerahkan setiap Sisiwa/Pelajar. Betapa tidak, pagi hari mereka berangkat dari rumah menuju kesekolah dan siap untuk menghadapi materi-materi yang disuguhkan oleh guru sampai pada siang hari. Selama mereka masih ada dalam lingkungan sekolah, mereka harus menaati segala peraturan sekolah yang mulai dari A sampai Z. Penerapan aturan sekolah merupakan salah satu poin dalam tugas pendidikan yaitu membina kedisiplin, tapi apakah aturan tersebut tidak melibatkan otoritas seorang guru untuk mengatur seorang siswa mulai dari ujung rambut sampai pada ujung kaki. Saya pernah ingat waktu saya SMA dulu, ketika lembar belakang buku tulis pelajaran, saya gambar dengan karikatur, seorang guru yang kebetulan mengajar pada saat itu membuka dan mendapati gambar yang ada pada lembar belakang, guru itu bertanya dengan nada yang tidak bersahabat, “apakah ini yang kau dapatkan pada saat gurumu mengajar?”. Saat itu saya berfikir, “lho… apakah saya tidak berhak mengeluarkan apa yang ada didalam pikiran saya!”
Poin lain yang harus kita perhatikan dalam pendidikan yaitu mengasah keterampilan, kepandaian, kejujuran, mengenal batasan kemampuan orang yang dididik, dan juga bagaimana pendidikan itu mampu membangun rasa kehormatan diri sendiri. Mengasah keterampilan seorang bukan hanya dalam bentuk pendidikan formal, atau pada wilayah kurikulum lembaga pendidikan, tetapi mereka lebih bisa untuk mengasah keterampilannya pada kegiatan-kegiatan ekstra, seperti berorganisasi dan lainnya yang dapat mengolah watak mereka tanpa beban. Tetapi apa yag terjadi di
Pernah ada teman saya, yang sempat saya temui pada sebuah kegiatan kemahasiswaan, juga seorang Mahasiswa UNHAS berkata “memang enak ya berorganisasi, kemampuan untuk berfikir lebih terlatih dengan baik dan lebih freess kebanding kita hanya mengikuti pelajaran didalam ruangan dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pengajar. Seandainya waktu masa SMA dulu saya bisa ikut aktif dalam organisasi, mungkin saya bisa lebih baik dibandingkan dengan teman-teman yang yang lain”. Walaupun kata-kata yang diungkapkan hanya seperti angin lalu ditelinga bebeapa orang, tetapi makna dari ungkapan tersebut sepertinya sangat dalam. Bahwa orang-orang yang pernah ikut dan aktif dalam sebuah oraganisasi akan sangat nampak perbedaannya dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah berorganisasi, entah itu dalam berfikir/bernalar, bertindak dan banyak lagi yang dapat kita lihat. Ungkapan diatas tersebut cuma salah sau contoh dan kita tidak akan terfokus pada masalah tersebut.
Pembagunan watak dalam institusi pendidikan (pada saat proses belajar-mengajarnya) kadang dikesampingkan, dikarenakan hasil yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan seperti yang dijelaskan diatas yaitu menciptakan tenaga siap pakai (pekerja) yang memiliki nilai jual tinggi oleh pasar (dunia kerja) dengan cara yang cepat dan instan, atau lebih mengarah pada kwantitas dari keluarannya, bukan lagi pada kualitas yang dapat berkompetisi dengan moralitasnya. Senada dengan penjelasan tersebut, kritik tentang proses pendidikan yang ada di negeri kita juga pernah terlontar dari Mulyoto (seorang guru yang tulisannya pernah dimuat oleh KOMPAS pada awal Maret 2006 lalu tentang pendidikan) bahwa “pengembangan kreativitas siswa ternyata terpasung oleh kebijakan Ujian Nasional (UN) yang mengiginkan standarisasi mutu pendidikan, padahal masalah tersebut yang paling urgen dalam peniddikan. Pada ruang personal pembagunan watak seseorang dimulai pada bagaimana seseorang dapat mengembangkan kemampuan bernalar, indrawi dan afeksinya. Sedangkan dalam ruang sosial, pengembangan watak tertuju pada kemampuan bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah dan kemampuan untuk menghargai sesamanya.
Untuk menghadapi masalah pendidikan yang terjadi selama ini banyak hal yang harus terbenahi dan inilah tanggung jawab para pendidik dan yang mau di-didik juga bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan. Kita telah mendapatkan banyak hal dari pendidikan tetapi apakah yang telah kita berikan untuk pendidikan yang akan menentukan masa depan anak cucu kita nanti.
0 comments:
Post a Comment